Jiwa Ragaku Untuk Kemanusiaan

1341

Menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di Satuan Brigade Mobil (Brimob) atau lebih dikenal dengan satuan elite Polri, di mana setiap anggotanya dituntut untuk mengetahui lebih mendalam tugas dan fungsi pokok anggota Polri. Karena tuntutan ini, mendorong figur Sandi Sultan untuk belajar dan mengetahui tupoksi setiap satuan yang ada di tubuh kepolisian yang ada di wilayah, karena bersentuhan langsung dengan masyarakat seperti polres, satuan sabhara, satuan lalu lintas, satuan reserse dan kriminal, satuan binmas, satuan intelkam, serta satuan reserse narkoba. Setelah mendapatkan pengetahuan yang cukup, Sandi Sultan memiliki rencana untuk kembali ke satuan Brimob pada suatu saat di akhir kariernya sebagai abdi masyarakat, karena jiwa raganya untuk kemanusian.

Susianto, (Anggota PWI Perwakilan Kabupaten Paser – Wartawan Balikpapan Pos/Paser Pos)

JALAN  panjang meniti karier di kepolisian, khususnya di satuan elite Polri, Brimob, sejatinya tercermin jelas dari figur Komisaris Polisi (Kompol) Sandi Sultan. Tegas dalam bertindak dan disiplin dalam bertugas, menjadi ciri khas pria yang sudah 16 tahun berkarier sebagai anggota Polri ini. Sebelum meninggalkan satuan Brimob, sejumlah prestasi dan rekam jejak ditorehkan pria kelahiran Makassar ini.

Pernah menjadi siswa terbaik dalamcandradimuka pembentukan personel Brimob di Watu Kosek, telah membentuk karakter khas seorang Sandi Sultan yang terkadang meledak-ledak. Sejumlah keahlian khusus yang dimiliki, tidak lalu membuat pria yang pernah merasakan menjadi pasukan pengamanan wakil presiden di era Susilo Bambang Yudhoyono – Budiono itu menjadi tinggi hati.

Di balik prestasi yang berhasil ditorehkannya di satuan Brimob, ternyata ada satu filosofi yang dipegang teguh oleh Sandi Sultan,yaitu Sekali Tampil Harus Berhasil. Enam tahun bertugas di daerah konflik, merupakan pengalaman tersendiri bagi pria yang berkomitmen mendedikasikan jiwa raganya untuk pengabdian, sesuai dengan slogan satuan Brimob, Pelopor Jiwa Ragaku untuk Kemanusiaan.

“Menjadi anggota Polri yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, kita dihadapkan pada sejumlah tantangan yang terus berkembang dari masa ke masa. Dan ini harus dijawab dengan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, dan polisi harus satu langkah di depan untuk pengungkapan sebuah kasus,” ujar Kompol Sandi Sultan.

Jika ditilik dari kariernya di satuan Brimob, figur Sandi Sultan bisa dikatakan cukup lengkap. Sejumlah jabatan bergengsi pernah didudukinya. Selain pernah menjabat sebagai komandan pleton, juga beberapa kali menjadi komandan kompi (danki) di sejumlah wilayah berbeda dengan karakter daerah yang berbeda di periode 2005-2006. Pria yang akrab disapa Sandi itu juga pernah merasakan sebagai kasubden I Den B Pelopor Brimob Polda Kaltim pada 2011.

Ada alasan tersendiri bagi mantan danki II Palu ini, mengapa ia meninggalkan satuan elite Polri. Pertama, ia ingin belajar dan mengetahui lima fungsi Polri secara umum yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, dengan harapan apa yang tidak didapat di Satuan Brimob, bisa didapatkan dalam setiap satuan di kepolisian wilayah, seperti polres. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah jabatan yang pernah dipegangnya di kepolisian wilayah, seperti pernah menjabat sebagai kabag Ops Polres Penajam Paser Utara (PPU), kabag Ops Polres Bontang, dan yang terakhir adalah menjabat sebagai wakapolres Paser.

“Di saat yang tepat, saya akan kembali ke satuan Brimob, karena jiwa saya dibentuk di satuan Brimob. Saya akan membagikan apa yang didapat selama bertugas menjadi personel polisi kewilayahan kepada anggota Brimob, saat saya kembali nanti. Dan ini adalah sebagai bentuk lain dedikasi saya kepada satuan Brimob,” tutup Sandi Sultan.

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.