SEJARAH SINGKAT GEDUNG PEREMPUAN BERJAYA, Dari BPU ke Sirana sampai berakhirnya era bioskop

665

Oleh Syamsir Artha

**pemerhati kebijakan dan pembangunan kabupaten Paser

Bangunan gedung ini dibangun sekitar Tahun 1973/1974 dengan Kontraktor Pelaksananya adalah CV. Venus (Direkturnya Alm. H. Muhammad HAN, apabila keliru penulisan tahun dan kontraktor pelaksana, mohon dikoreksi). Sejak gedung ini dibangun, kegiatan pertemuan resmi pemda/resepsi/perpisahan sekolah dlsb, dilaksanakan di gedung ini. Gedung ini awalnya dikenal dengan sebutan Balai Pertemuan Umum (BPU).

Sebelum gedung ini dibangun. di Tanah Grogot, hanya ada gedung pertemuan “Balai Dakwah” (lokasi berdirinya bangunan gedung tersebut menempati sebagian lahan Dinas Kominfo saat ini, yang dahulu berada di bagian belakang eks kantor Wedana Pasir atau disamping gedung BPD. Balai Dakwah atau Islamic centre ini, pada malam hari dipergunakan sebagai Bioskop “Kandilo Theater” mulai awal Tahun 70 an s.d sekitar Tahun 1975/1976.

Sebelum berganti nama dengan sebutan Gedung Perempuan Berjaya (Tahun 2012, mohon dikoreksi), nama/sebutan awal gedung ini adalah Balai Pertemuan Umum/BPU. Seiring dengan selesainya pemangunan gdung BPU ini. maka Balai Dakwah/Islamic Centre dikembalikan kpada fungsinya semula pusat kegiatan Islam, kesekretariatan berbagai ormas Ilsam (agar tidak terjadi kontradiksi dalam pemanfaatannya),

Fungsi gedung BPU ini pun tidak berbeda dengan gedung Balai Dakwah, Siang hari digunakan untuk kegiatan acara pemda/ masyarakat umum, sedangkan malam hari berfungsi sebagai bioskop. namun apabila Pemda menggunakan malam hari maka pemutaran film ditunda ke malam berikutnya. Meski sudah pindah dari balai Dakwah ke BPU, nama gedung bioskop tidak berubah, tetap dengan dengan sebutan “KandiloThaeter”

Nama Sirana yang selanjutnya diabadikan sebagai nama pengganti Gedung BPU, pada awal tahun 80 an diambil/berasal dari nama bunga anggrek (jenis/varietas lokal Kabupaten Paser) yang diberikan oleh alm. Ibu Tien Soeharto di Samarinda, disamping anggrek Rindana untuk varietas anggrek dari Kotamadya Samarinda. Secara etimologis, Sirana berasal dari akronim (pemenggalan kata) sir= pasir, ana=ada. Maksudnya varietas anggrek tsb hanya tumbuh, hidup dan berkembang di Kabupaten Paser.

Seiring dengan perubahan nama gedung ini, dan bersamaan pula perubahan pada manajemen, pihak yang mengontrak, maka sebutan Kandilo Theater pun berubah menjadi Sirana Theater, yang beroperasi sampai sekitar awal tahun 90 an, Film yang diputar di Kandilo Thater dan Sirana Theater, merupakan films “sisa” setalah diputar di Gelora Theater balikpapan, untuk diputar di Bisokop Kandio/Sirana selama 2 hari/2 malam.

Nama-nama yang Tidak lekang dalam ingatan yang bekerja dan selalu ditemui di gedung Sirana Theater, antara lain “Mas Budi” operator yang menjalankan proyektor selama puluhan tahun sejak dari Kandilo Theate. sampai kemudian diganti saudara “Yayas”, alm.“Dutarman alias Encek” panggilan akrab/panggilan hari-hari untuk nama Bapak mertua Lim Haw Ming (Iming) selaku pimpinan, Pak Sofwan yang bertugas mengambil film, jual karcis dan melakukan pengumuan film yang akan diputar melalui siaran keliling dengan menggunakan mobil taksi/MPU Tgt-Pnjm, Selamet “bisu” , ‘tukang sapu (petugas kebersihan), Noorhanuddin Azis alias “Noan” , penyobek karcis, yang kocak dan dagelan melebihi kelucuan akting para bintang film, alm. Abdul Wahid alias “Indar” yang menjual karcis di luar loket.

Meminjam istilah Tayangan viral di Youtube, maka instrument pembuka. Penanda film akan diputar dan pemutaran film akan/telah berakhir, “the end” alias tamat, menjadi ciri khas di Bioskop Kandilo Theater sampai dengan Sirana Thaeter selama kru waktu seiiar 20 tahun. Sayangnya, saya tidak bisa menyebutkan judul instrument tersebut, hanya untuk mengingatnya instrumen tersebut juga dipergunakan dalam setiap tayangan grup komdeian/lawak Srimulat di televisi,swasta.

Sejarah perbioskopan “theater” berakhir di Gedung Sirana ini sejak munculnya sinteron di televise sasta nasional. Setelah sempat bertahan beberapa waktu, dengan hanya memutar fil Inda yang ditonton oleh penggemar setianya beberapa orang saja.

Keberadaan bangunan gedung Sirana inipun mulai meredup sejak dibangun gedung pertemuan yang lebih refesentatif yakni Gedung Awa Ruku (I) yang berlokasi di Hutan Kota Jln Jend Sudirman yang kemudan terbakar. Pasca kebakaran gedung Awa Ruku (I), Pemkab Paser Pada Tahun 2001 membangun Gedung pertemuan baru di lokasi bekas kebakaran kantor Bupati Paser (jln jend, Sudirman-pertigaaan Jln. R.M NotoSunardi). Sembari menunggu selesainya pembangunan gedung Awa mangkuruku (II) maka Gedung Sirana mulai difungsikan kembali untuk kegiatan pemda dan masyarakat.

Status Gedung Sirana menjadi gedung “kelas II” sejak difungsikannya gedung Awa Mangkuruku yang lebih megah, dengan fasilitas yang lengkap dan kondisinya yang nyaman (refresentatif) serta berkapasitas lebih besar darpafa gedung Sirana. Pasca dilakukan rehabilitasi, gedung Sirana selanjutnya disetujui untuk digunakan sebagai sekretariat bersama organisasi wanita (GOW), yang pada akhirnya “mengilhami” dan menjadi “Inspiras”i Bupati Paser H.M. Ridwan Suwidi untuk memberikan nama gedung ini dengan sebutan “Perempuan Berjaya”.

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.